Mengenal Teknis Budidaya Udang

Perpindahan komoditas budi daya dari udang windu ke udang vannamei tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perpindahan dilakukan bukan tanpa sebab, yaitu karena menurunnya stok induk mau pun benur udang windu, yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah petambak yang panen lebih awal (udang ukuran kecil). Kini komoditas udang vannamei mulai diminati oleh sebagian petambak, walaupun pada kenyataannya komoditas udang windu masih menjadi idola. Dapat dilihat dari harga penjualan udang windu yang semakin meningkat.

Bermula dari Tahun 2011 udang vannamei atau lebih dikenal dengan nama udang putih mulai dikenal petambak melalui radio danĀ obrolanmulut ke mulut. Proses budi daya yang hanya digeluti oleh petambak yang bermodal saja tidak membuat gentar petambak lain yang masih setia dengan udang windu. Namun, seiring waktu berlalu budi daya udang windu banyak mengalami kendala. Kematian di awal budi daya udang windu serta jenis pakan yang mengandung bahan pengawet membuat petambak di Kabupaten Pinrang mencoba untuk mulai membudidayakan udang vannamei. Walaupun hasilnya tidak cukup memuaskan di awal percobaan setidaknya ada keuntungan yang diperoleh petambak.

60% keberhasilan budi daya udang ditentukan dari persiapan lahannya. Masalah utama yang ditemukan dalam budi daya adalah adanya amoniak di dalam lumpur, media utama tempatnya bersarang bakteri seperti vibrio. Maka, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan pengeringan lahan tambak, pembajakan dan pengangkatan lumpur yang dapat dilakukan jika memungkinkan. Selain itu, pemberian probiotik merupakan alternatif untuk mempercepat proses penguapan. Saat pengeringan lahan perlu diberi kapur bakar di dasar tambak dan pada pematang, agar saat pengangkatannya lumpur akan turun kembali ketika hujan.

Selanjutnya, perlu dilakukan sterilisasi dalam persiapan pengairan untuk menghambat pertumbuhan lumut, membasmi ikan-ikan liar dan kerang-kerangan. Dalam budi daya udang vannamei pupuk tidak dibutuhkan. Walaupun dapat memicu pertumbuhan plankton, namun dapat mempercepat proses rusaknya air. Cukup dengan pemberian dedak fermentasi saja jika menggunakan budi daya sistem Intensif.

Melihat pola pemberian pakan cara penentuan jumlah berdasarkan perilaku udang dalam tambak perlu diperharikan karena nafsu makan udang dapat berubah tiap waktu. Udang akan malas makan saat melakukan molting (pergantian kulit secara reguler seiring pertumbuhan tubuh udang), sehingga dosis pemberian pakan dapat dikurangi agar tidak terjadi pemborosan dan penumpukan sisa pakan yang bisa meningkatkan amoniak.

DO atau kandungan Oksigen dalam air akan menurun pada malam hari sehingga pemberian pakan pada malam hari sebaiknya dikurangi untuk mengurangi aktivitas yang dapat menurunkan DO pada tambak. Jika terdapat alat berupa kincir sebaiknya mulai di aktifkan pada sore hari, sebab awal penurunan DO mulai terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *